Di berbagai daerah Korea termasuk Busan dan Gyeongnam, penyakit pernapasan seperti pilek, flu, dan COVID-19 sedang meningkat bersama. Karena perbedaan suhu siang dan malam yang besar saat pergantian musim serta lingkungan yang kering terus berlanjut, kewaspadaan untuk menjaga kesehatan juga makin tinggi. Otoritas kesehatan melihat tren penyebaran seperti ini bisa terus berlanjut untuk sementara waktu. Artikel ini terutama menekankan peningkatan rhinovirus. Artikel menyebutkan bahwa menurut standar pemantauan sampel dari Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea, jumlah pasien rawat inap karena rhinovirus naik dari 132 orang pada minggu pertama bulan 3 menjadi 424 orang pada minggu kedua bulan 4. Angka ini lebih tepat dibaca sebagai laporan dari institusi yang ikut dalam pemantauan sampel, bukan total seluruh pasien terkonfirmasi nasional. Dijelaskan bahwa rhinovirus menyebabkan gejala pilek seperti hidung meler dan sakit tenggorokan, dan kalau parah bisa berlanjut menjadi pneumonia. Ditambah lagi, serbuk sari di musim semi juga ikut muncul, jadi gejala seperti batuk dan bersin bisa terasa lebih berat. Otoritas kesehatan menekankan pentingnya memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga kebersihan diri.
원문 보기
Alasan musim semi di Korea sekarang terasa sangat ramai
Musim semi, tapi kenapa badan terasa sakit seperti di tengah musim dingin, ya? Perasaan seperti itu memang bisa muncul. Musim semi kali ini lebih mirip situasi ketika sisa flu musim dingin masih ada, lalu bertumpuk sekaligus dengan rhinovirus (virus penyebab utama pilek biasa), coronavirus manusia, dan metapneumovirus yang sering beredar di musim semi. Tapi corona yang dibahas di sini, dalam konteks menjelaskan arus luas virus pernapasan, bukan hanya COVID-19 dalam artikel, melainkan juga coronavirus manusia lain yang ikut terdeteksi dalam data patogen pemantauan sampel.
Kalau melihat data pemantauan dari Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea, fenomena ini bukan hal yang benar-benar mendadak. Saat pergantian musim ke musim semi di Korea, memang sejak dulu beberapa virus pernapasan bisa beredar bersama. Namun setelah pandemi, batas antar musim jadi lebih kabur, sehingga tumpang tindih ini terasa lebih lama dan lebih rumit. Singkatnya, kalau dulu rasanya seperti 'flu musim dingin selesai lalu pilek musim semi datang', sekarang lebih mirip estafet di mana peserta berikutnya masuk sebelum yang sebelumnya selesai.
Jadi saat di berita dibilang pilek, flu, dan corona menyebar bersamaan, kalau dipahami sebagai 'tiga penyakit itu meledak persis sama besar' itu agak berlebihan. Yang lebih tepat, gelombang penyebaran virus yang berbeda saling bertumpuk pada waktu yang sama. Ini perlu dipahami supaya jelas kenapa ada orang yang cuma hidung meler, tapi ada juga yang langsung mengalami demam tinggi dan pegal-pegal sekaligus.
Wabah musim semi kali ini lebih dekat pada fenomena tumpang tindih antara sisa wabah musim dingin dan virus musim semi, bukan masalah 'satu virus baru'.
Setelah pandemi, pola musiman jadi goyah, jadi tumpang tindih seperti ini bisa terasa lebih panjang.

Indikator flu yang naik lagi di musim semi
Kalau melihat persentase pasien suspek influenza pada musim semi 2025 (jumlah pasien yang diduga flu per 1,000 pasien rawat jalan), flu yang kelihatannya mau turun ternyata naik lagi.

Virus yang beredar bersama di musim semi
| Kategori | Virus | Rasio deteksi |
|---|---|---|
| Rawat jalan | Influenza | 17.2% |
| Rawat jalan | Rhinovirus | 13.7% |
| Rawat jalan | Koronavirus manusia | 12.1% |
| Rawat inap | Rhinovirus | 26.7% |
| Rawat inap | Metapneumovirus | 21.3% |
| Rawat inap | Koronavirus manusia | 16.9% |

Ucapan 'sakit karena musim pancaroba', seberapa benar ya
Kalau sudah lama tinggal di Korea, pasti sering sekali dengar ucapan 'kalau beda suhu siang dan malam besar, pasti kena flu'. Ucapan ini tidak sepenuhnya salah, tapi kalau dipahami sebagai penyakit muncul karena dingin , itu cuma setengah benar. Flu dan pilek pada dasarnya terjadi karena infeksi virus, dan cuaca dingin lebih dekat ke faktor lingkungan yang membantu infeksi itu jadi lebih mudah terjadi.
Kalau lihat penelitian, udara dingin bisa melemahkan imunitas lokal pada selaput lendir hidung (lapisan pertahanan pertama yang langsung bekerja di dalam hidung). Selain itu, di udara kering virus lebih mudah menyebar, dan saat beda suhu siang dan malam besar, orang biasanya lebih lama tinggal di dalam ruangan dan lebih jarang membuka ventilasi. Jadi intinya bukan 'daya tahan tubuh langsung turun banyak dalam sekali', tapi gabungan udara dingin + kering + ruangan padat + ventilasi kurang.
Ini juga bukan cerita yang hanya ada di Korea. Di negara-negara wilayah beriklim sedang pun, saat akhir musim dingin berganti ke musim semi, tumpang tindih yang mirip juga terlihat. Hanya saja di Korea, setelah pandemi, pola musiman flu dan virus pernapasan lain jadi terganggu, jadi sekarang 'flu musim pancaroba' terasa lebih kompleks daripada dulu.
Dibanding 'kena flu karena dingin', ungkapan 'lingkungan yang dingin dan kering membantu penularan virus dan melemahkan pertahanan selaput lendir hidung' lebih ilmiah.

Apa bedanya pilek, flu, dan Covid di tubuh?
| Item | Pilek | Flu | COVID-19 |
|---|---|---|---|
| Penyebab utama | Rinovirus dan lain-lain | Virus influenza | SARS-CoV-2 |
| Pola awal | Mulai pelan-pelan | Mulai tiba-tiba | Sangat berbeda pada tiap orang |
| Gejala utama | Hidung berair, hidung tersumbat, sakit tenggorokan | Demam tinggi, menggigil, nyeri otot, lelah | Batuk, sakit tenggorokan, demam, bisa ada perubahan penciuman dan perasa |
| Gejala seluruh tubuh | Biasanya ringan | Biasanya kuat | Sedang~kuat, beda tiap orang cukup besar |
| Risiko pneumonia | Bisa terjadi pada kelompok berisiko tinggi | Perlu hati-hati pada kelompok berisiko tinggi | Perlu lebih luas waspada |
| Waktu perlu tes | Sesak napas, nyeri dada, kelompok berisiko tinggi | Saat mempertimbangkan pengobatan awal | Saat masa penyebaran, kelompok berisiko tinggi, atau dicurigai berat |

Poin yang bisa dilihat dulu di rumah: ini alergi serbuk sari atau flu
Pada musim semi, bukan hanya virus yang jadi masalah. Kalau alergi serbuk sari datang bersama, memang jadi sangat membingungkan.

Cara membaca angka di artikel
| Indikator | Apa yang dihitung | Bagaimana harus membacanya |
|---|---|---|
| Jumlah pasien rawat inap pemantauan sampel | Pasien yang dilaporkan oleh lembaga medis peserta | Ini angka untuk melihat tren, bukan penghitungan total nasional |
| Proporsi pasien dugaan influenza (ILI) | Jumlah pasien dugaan flu per 1,000 pasien rawat jalan | Indikator utama untuk melihat seberapa luas flu menyebar |
| Standar wabah | Garis dasar statistik per musim | Angka seperti 8.6 orang, 9.1 orang bisa berubah setiap tahun |
| Tingkat deteksi patogen | Persentase virus yang dikonfirmasi dengan PCR dari sampel | Menunjukkan virus apa saja yang beredar bersamaan |

Bagaimana budaya memakai masker di Korea berubah setelah corona
Latar belakang otoritas kesehatan sekarang kembali menekankan masker dan cuci tangan adalah karena ada perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir.
Tahap 1: sebelum corona
Masker lebih dekat sebagai alat pilihan yang terutama dipakai dalam situasi tertentu seperti debu kuning, debu halus, musim flu, dan MERS.
Tahap 2: 2020~2022
Saat COVID-19 datang, masker, cuci tangan, dan etika batuk menjadi aturan umum publik di seluruh negeri. Pada masa ini, infeksi saluran pernapasan lain seperti flu juga turun banyak.
Tahap 3: setelah 2023
Ketika pencegahan wabah dilonggarkan, flu yang sempat tertahan dan berbagai virus pernapasan kembali meningkat besar. Orang-orang jadi menerima lebih alami budaya 'memakai masker secara sukarela saat sakit'.
Tahap 4: sekarang
Respons Korea sudah berpindah dari pencegahan wabah wajib ke pencegahan wabah mandiri. Kewajiban hukum berkurang, tetapi memakai masker saat ada gejala dan menjaga kebersihan tangan pada kenyataannya menjadi etika dasar yang baru.

Naik turunnya wabah flu yang diubah pandemi
Jika melihat proporsi pasien suspek berdasarkan minggu ke-23 yang sama, pada masa pandemi angkanya tertahan, lalu setelah itu naik lagi dengan besar.

Jadi, yang perlu kita ingat pada musim semi ini
Inti musim semi ini bukan 'anehnya semua orang jadi lebih lemah'. Yang terjadi adalah terbentuk lingkungan tempat beberapa virus bisa beredar bersamaan, dan setelah pandemi pola musim juga ikut terguncang, jadi rasa terkenalnya lebih besar. Jadi, meski terlihat banyak orang di sekitar sedang sakit, kalau mengira itu pasti karena satu penyakit yang sama, ada hal yang bisa terlewat.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak perlu memikirkannya terlalu rumit. Kalau demam dan pegal badan kuat, buka kemungkinan flu atau corona, dan kalau gatal serta berulang kuat, boleh curiga alergi serbuk sari juga. Kalau termasuk kelompok risiko tinggi, atau sesak napas dan ada nyeri dada, dibanding 'coba tahan beberapa hari lagi', pemeriksaan dan berobat harus lebih dulu.
Kalau dibilang dengan sedikit lebih seru, penyakit pernapasan musim semi di Korea sekarang bukan lagi sekadar 'musim masuk angin' yang sederhana seperti dulu, tetapi lebih mirip pertunjukan campuran saat flu, pilek, alergi, dan corona naik ke panggung yang sama. Karena itu, pembicaraan bahwa dasar seperti masker, cuci tangan, dan ventilasi masih menjadi perlindungan yang paling murah dan paling pasti muncul lagi.
Usia 65 tahun ke atas, bayi dan balita, ibu hamil, orang dengan daya tahan tubuh lemah, dan penderita penyakit kronis bisa memburuk lebih cepat meski terlihat seperti masuk angin.
Kalau ada sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, dehidrasi, atau sianosis, jangan dianggap hanya gejala pergantian musim biasa.
Kami akan memberi tahu cara hidup di Korea
Mohon banyak cinta untuk gltr life




