Yayasan Pearl S. Buck Korea memilih 16 remaja multikultural yang mengalami kesulitan ekonomi sebagai penerima beasiswa. Yayasan mengadakan acara penyerahan sertifikat beasiswa pada 4월 18일. Penerima beasiswa akan mendapat dana beasiswa sebesar 1.6M KRW selama 1 tahun. Kamp beasiswa dan berbagai program juga dijalankan bersama. Yayasan menempatkan fokus utama program tahun ini pada perencanaan karier dan dukungan emosional keluarga. Artinya, bukan hanya remajanya saja, tetapi juga wali agar bisa tumbuh bersama. Direktur eksekutif Kwon Taek-myeong mengatakan bahwa agar para siswa ini tumbuh menjadi talenta inti masyarakat Korea, tujuan karier dan dukungan keluarga itu penting. Program beasiswa ini dijalankan sejak 2017 dengan sponsor perusahaan dan dukungan komunitas penggalangan dana bersama. Sampai sekarang total penerima beasiswa berjumlah 234 orang. Yayasan menjelaskan bahwa program ini sudah menjadi program perwakilan untuk pengembangan talenta remaja berlatar migrasi.
원문 보기Kenapa 16 lembar sertifikat beasiswa jadi berita
Kalau dilihat sepintas, ini memang tampak seperti acara hangat yang memberi 16 lembar sertifikat beasiswa. Tapi alasan berita ini terasa lebih besar adalah karena masyarakat Korea sekarang mulai membicarakan remaja berlatar migrasi bukan hanya sebagai 'anak-anak yang butuh bantuan', tetapi sebagai talenta masa depan.
Dulu, kalau ada artikel seperti ini, biasanya kalimat di depan berbunyi seperti 'mendukung anak-anak yang kasihan'. Tapi kalau melihat artikel ini bersama bahasa kebijakan terbaru, ungkapan seperti 'talenta inti', 'perencanaan karier yang dipimpin diri sendiri', dan 'dukungan emosional di dalam keluarga' lebih sering muncul. Ini bisa dibaca sebagai tanda bahwa cara pandangnya sedang berubah. Dari fokus perlindungan ke fokus pertumbuhan, dari bantuan sekali saja ke pembinaan jangka panjang.
Jadi, untuk memahami artikel ini, kita tidak cukup hanya melihat jumlah beasiswanya. Kita perlu tahu siapa yang dimaksud dengan 'remaja berlatar migrasi', kenapa keluarga juga didukung bersama, dan kenapa nama Pearl Buck dipakai di sini supaya konteksnya terasa jelas. Yuk kita ikuti ceritanya satu per satu.
Inti beritanya bukan pada angka 16 orang, tetapi pada perubahan bahasa kebijakan dan cara pandang sosial dalam melihat remaja berlatar migrasi.
Beasiswa itu hanya awal, dan pesan sebenarnya lebih dekat pada investasi jangka panjang yang menggabungkan karier, keluarga, dan dukungan emosional.
Kenapa disebut 'remaja berlatar migrasi', bukan 'remaja multikultural'
| Item | Remaja multikultural | Remaja berlatar migrasi |
|---|---|---|
| Kelompok yang biasanya dibayangkan | Berpusat pada anak dari keluarga pernikahan internasional | Kelompok yang lebih luas, yaitu orang yang dirinya sendiri atau orang tuanya punya pengalaman migrasi |
| Cakupan yang termasuk | Cakupannya relatif sempit | Mencakup sampai anak dari keluarga asing, remaja yang masuk negara di usia pertengahan, etnis Koryoin, dan remaja berlatar pembelotan dari Korea Utara |
| Masalah yang dilihat kebijakan | Perbedaan budaya keluarga | Melihat bersama bahasa Korea, adaptasi sekolah, informasi karier, dukungan emosional, sampai akses ke sistem |
| Kenapa istilahnya berubah | Sulit menampung semua jenis migrasi yang beragam dalam kenyataan | Perubahan untuk melihat berdasarkan pengalaman migrasi dan proses adaptasi daripada bentuk keluarga |
Bagaimana Korea mulai melihat anak-anak ini secara khusus
Di balik berubahnya satu istilah, ada perubahan cara masyarakat Korea memandang orang.
Tahap 1: awal 2000-an, 'anak dari keluarga multikultural' mulai lebih dulu terlihat
Saat pernikahan internasional meningkat, di sekolah dan lapangan kesejahteraan mulai terlihat 'anak-anak yang tumbuh di Korea tetapi punya latar keluarga berbeda' sebagai sasaran kebijakan untuk pertama kalinya. Tapi waktu itu cakupannya masih sempit.
Tahap 2: sekitar 2010, masalah remaja yang masuk ke Korea di tengah masa tumbuh besar
Karena semakin banyak remaja yang tumbuh di luar negeri lalu masuk ke Korea dan pindah ke sekolah, masalah adaptasi bahasa dan belajar jadi makin jelas terlihat. Kerangka 'multikultural' yang lama saja sudah tidak cukup untuk menjelaskan semuanya.
Tahap 3: akhir 2010-an, istilah yang lebih luas yaitu 'latar migrasi' mulai menyebar
Di lembaga penelitian dan lapangan, mereka melihat perlu ada payung yang lebih besar supaya anak dari keluarga asing, orang Koryoin, sampai remaja dengan latar keluar dari Korea Utara bisa dilihat bersama. Karena itu, bahasa yang melihat berdasarkan pengalaman migrasi, bukan bentuk keluarga, makin meluas.
Tahap 4: 2020-an, dukungan untuk pendidikan umum, menetap, dan pertumbuhan mulai dijalankan sungguh-sungguh
Pemerintah dan pemerintah daerah mulai melihat pendidikan umum, pendidikan bahasa Korea, perencanaan karier, dan hubungan dengan masyarakat lokal sebagai satu rangkaian, sehingga 'remaja dengan latar migrasi' kini makin dianggap bukan sebagai sasaran perlindungan sementara, tetapi sebagai kelompok inti untuk integrasi sosial.
Apa perbedaan tembok yang sering dihadapi remaja dengan latar migrasi
| Jenis | Kesulitan yang sering dialami | Kenapa bisa terjadi |
|---|---|---|
| Remaja dari keluarga multikultural | Kebingungan identitas, adaptasi sekolah, hubungan dengan teman sebaya | Karena bahasa dan budaya di rumah dan sekolah berbeda, dan mereka bisa mengalami diskriminasi karena penampilan atau latar belakang |
| Remaja yang masuk ke Korea di tengah masa tumbuh besar | Bahasa Korea, pelajaran sekolah, adaptasi tingkat kelas | Karena mereka sudah melewati kurikulum negara lain lalu tiba-tiba masuk ke sistem sekolah Korea |
| Remaja dari keluarga asing | Kurang informasi tentang sistem, sulit mengakses pendidikan lanjut dan kesejahteraan | Karena dalam banyak kasus wali belum terbiasa dengan sistem sekolah, ujian masuk, dan kesejahteraan di Korea |
| Remaja dengan latar keluar dari Korea Utara dan latar migrasi lainnya | Beban psikologis dan emosi, stigma sosial | Karena stres dari proses migrasi dan beban adaptasi sosial datang bersamaan |
Kenapa tidak hanya memberi uang, tapi juga ditambah kemah dan mentoring
Beasiswa memang penting. Jika 1 tahun 1.6M KRW, itu bisa mengurangi beban nyata seperti biaya buku pelajaran, biaya les, dan biaya transportasi. Tapi di lapangan, pertanyaan seperti ini segera muncul. Uang hanya sebentar memberi ruang bernapas, tapi siapa yang memberi tahu informasi karier? Siapa orang dewasa yang mau mendengarkan kekhawatiran mereka?
Remaja dengan latar migrasi sering mengalami 'kekosongan informasi' yang besar. Bisa jadi hanya sedikit orang di sekitar yang secara alami memberi tahu pilihan apa yang harus diambil di sekolah Korea, bagaimana jalur ujian masuk dan kerja itu berbeda, dan jalan apa yang masih bisa ditempuh lagi saat gagal. Karena itu, sekarang program beasiswa berubah dari cara yang hanya melempar uang tunai menjadi bentuk yang menggabungkan mentoring, penjelajahan karier, kemah, kunjungan kampus, konseling bersama-sama.
Kalau diibaratkan dengan mudah, begini. Kalau beasiswa adalah bahan bakar, maka mentoring dan program adalah peta. Kalau hanya ada bahan bakar, mobil memang bisa bergerak, tapi kalau tidak tahu harus pergi ke mana, tidak bisa pergi jauh. Inilah alasan Yayasan Pearl S. Buck menambahkan program tahunan pada beasiswa.
Bagi remaja dengan latar migrasi, sering kali masalah pendapatan dan kesenjangan informasi, kurangnya jaringan hubungan, kecemasan emosi datang menumpuk bersamaan.
Karena itu, belakangan ini program beasiswa berubah menjadi bentuk yang lebih dekat ke perancangan jalur pertumbuhan daripada sekadar 'menutup biaya sekolah'.
Apa bedanya beasiswa sederhana dan model 'uang + mentoring + perancangan karier'
| Item | Beasiswa sederhana | Model dukungan terpadu |
|---|---|---|
| Tujuan utama | Meringankan beban biaya sekolah dan biaya hidup | Melanjutkan belajar + perancangan karier + kestabilan emosi |
| Sarana inti | Dukungan uang tunai | Uang tunai + mentoring + kemah + konseling + kegiatan pengalaman |
| Masalah yang bisa diselesaikan | Kekurangan biaya saat ini | Bukan hanya kekurangan biaya, tapi juga sampai kesenjangan informasi dan kurangnya rasa memiliki |
| Efek yang diharapkan | Mencegah putus sekolah | Meningkatkan efikasi diri, kemampuan pengembangan karier, dan kemungkinan mandiri dalam jangka panjang |
| Batasan | Kalau kehilangan arah, efeknya bisa sebentar | Biaya operasional dan tenaga ahli yang lebih banyak juga dibutuhkan |
Kenapa bukan cuma remaja, tapi wali juga didukung bersama
Bahkan orang yang sudah lama tinggal di Korea juga bisa bingung dengan sistem masuk sekolah, kan. Jenis SMA berbeda-beda, ada jalur penerimaan reguler dan jalur seleksi umum, lalu jalur sekolah kejuruan, akademi, universitas, dan sertifikat juga terpisah-pisah. Tapi kalau wali belum terbiasa dengan sistem pendidikan Korea, ini bisa terasa hampir seperti labirin.
Jadi di keluarga dengan latar migrasi, kekhawatiran remaja sering langsung jadi kesenjangan informasi keluarga. Saat anak bertanya soal karier, orang tua bisa sulit memberi jawaban, dan meski membaca surat panduan dari sekolah, bisa saja tetap sulit memahami konteks sistemnya. Kalau masih ada hambatan bahasa, menghubungkan ke lembaga konseling atau sistem kesejahteraan juga jadi lebih susah.
Bagian emosional juga besar. Kalau melihat berbagai penelitian, dilaporkan bahwa remaja dengan latar migrasi punya tingkat stres yang lebih tinggi dan cenderung merasa prestasi belajarnya lebih rendah. Di saat seperti ini, jaring pengaman terdekat pada akhirnya adalah rumah. Jadi mendukung sampai wali juga berarti bukan sekadar 'pendidikan orang tua', tapi lebih dekat ke membangun jaringan dukungan sehari-hari yang membantu anak tetap bertahan.
Informasi karier bisa diberi tahu oleh sekolah, tapi peran yang tiap hari menurunkan rasa cemas di samping anak pada akhirnya dilakukan oleh keluarga.
Jadi membantu wali bersama-sama bukan layanan tambahan, tapi cara supaya efek dukungan remaja bisa bertahan lama.
Kenapa nama Pearl Buck masih tetap hidup di Korea
Nama ini bukan sekadar papan nama pemenang penghargaan sastra, tapi terhubung dengan sejarah yang lama menemani anak-anak yang diabaikan Korea pascaperang.
Tahap 1: Novelis Pearl Buck adalah orang yang lama melihat Asia
Pearl S. Buck adalah penulis Amerika, tetapi ia tumbuh besar di Tiongkok dan banyak membahas kehidupan masyarakat Asia serta masalah diskriminasi secara mendalam. Karena itu, ia juga bisa menaruh perhatian pada masalah Korea sejak awal.
Tahap 2: Setelah Perang Korea, masalah anak berdarah campuran adalah titik buta yang menyakitkan di masyarakat Korea
Setelah perang, di Korea anak berdarah campuran dan keluarga mereka mengalami diskriminasi berat serta kekosongan kesejahteraan. Lalu muncul gerakan untuk mencoba menyelesaikan masalah yang saat itu belum bisa ditangani dengan baik oleh masyarakat Korea lewat solidaritas internasional, dan dalam proses itu Pearl Buck ikut terhubung.
Tahap 3: Pada 1965, Yayasan Pearl Buck Korea didirikan
Menurut catatan, masih ada jejak bahwa pihak Korea pernah langsung meminta bantuan kepada Pearl Buck. Yayasan itu mulai dengan membangun dasar pendidikan, perlindungan, dan pelatihan kerja untuk anak berdarah campuran dan para ibu mereka.
Tahap 4: Fokus yayasan meluas dari 'perlindungan' ke 'kemandirian', lalu ke 'pertumbuhan remaja berlatar migrasi'
Pada 1970~80-an, cakupannya meluas ke kemandirian hidup dan pelatihan kerja, lalu setelah itu ke dukungan untuk anak dan remaja dari keluarga multikultural serta berlatar migrasi. Jadi, program beasiswa sekarang bukan muncul tiba-tiba, tapi bisa dibilang versi terbaru dari kepedulian terhadap masalah yang sudah berlanjut hampir 60 tahun.
Bagaimana fokus Yayasan Pearl Buck berubah dari waktu ke waktu
| Periode | Target utama | Dukungan inti |
|---|---|---|
| 1960-an~masa pemulihan pascaperang | Anak berdarah campuran, yatim perang, dan keluarga | Perlindungan, pendidikan, dan dukungan kehidupan dasar |
| 1970~1990-an | Orang berdarah campuran dan keluarga | Pelatihan kerja, kemandirian hidup, dan dukungan penyesuaian sosial |
| Sejak 2000-an | Anak dan remaja dari keluarga multikultural dan berlatar migrasi | Adaptasi sekolah, psikologis dan emosional, dukungan keluarga, program karier |
| Program beasiswa saat ini | Penerima beasiswa terpilih seperti 16 remaja berlatar migrasi | Beasiswa + kamp + perencanaan karier + pembentukan dasar dukungan wali |
Alasan anak-anak ini disebut bukan sebagai 'penerima dukungan', tetapi 'talenta inti'
Mulai dari sini, cara pandangnya sedikit berubah. Dulu mereka hanya dilihat sebagai 'kelompok yang perlu dibantu untuk beradaptasi', tapi sekarang makin kuat pandangan bahwa mereka adalah orang-orang yang pasti akan dibutuhkan masyarakat Korea di masa depan. Karena di Korea, jumlah kelahiran rendah dan penurunan penduduk membuat generasi berikutnya cepat berkurang.
Dalam situasi seperti ini, remaja dengan latar belakang migrasi punya arti lebih dari sekadar angka. Pengalaman memakai bahasa Korea dan bahasa lain bersama-sama, serta tumbuh sambil bolak-balik di antara dua budaya, bisa menjadi kekuatan di bidang seperti perdagangan, internasionalisasi daerah, pendidikan, kesejahteraan, dan kerja sama global. Artinya, mereka bisa menjadi talenta global di dalam masyarakat Korea.
Tentu, kalau dibiarkan begitu saja, itu tidak akan terjadi dengan sendirinya. Dukungan bahasa Korea awal, adaptasi sekolah, pengurangan diskriminasi, dan hubungan ke jalur karier harus berjalan bersama. Jadi, kata 'talenta inti' adalah pujian, tapi sekaligus juga pekerjaan rumah. Karena akan muncul pertanyaan apakah masyarakat Korea benar-benar siap memperlakukan mereka seperti itu.
Kedengarannya seperti kata yang bagus, tetapi kalau hanya slogan tanpa dukungan nyata, malah bisa menjadi beban.
Perubahan yang nyata mulai saat dukungan adaptasi + pengembangan kemampuan + pengurangan diskriminasi berjalan bersamaan.
Bagaimana cara pandang kebijakan bergeser dari 'perlindungan' ke 'kemampuan'
| Item | Fokus lama pada adaptasi dan perlindungan | Fokus baru pada kemampuan dan talenta |
|---|---|---|
| Pertanyaan dasar | Bagaimana supaya bisa beradaptasi dengan baik di sekolah | Bagaimana mengembangkan kelebihan lalu menghubungkannya menjadi aset sosial |
| Program inti | Bahasa Korea, kehidupan dasar, konseling | Bahasa Korea + dwibahasa, perencanaan karier, hubungan ke kerja dan masuk sekolah lanjut |
| Posisi keluarga | Peran pendukung | Subjek utama untuk dukungan emosional dan penghubung informasi |
| Gambaran yang diharapkan masyarakat | Warga yang beradaptasi tanpa masalah | Talenta tipe jembatan yang menghubungkan dalam dan luar negeri |
| Pertanyaan yang tersisa bagi kita | Seberapa banyak akan membantu | Masyarakat seperti apa yang akan kita bangun bersama |
Kami akan memberi tahu cara hidup di Korea
Tolong banyak cintai gltr life




