|
GLTR.life

Hidup di Korea, Dipahami

cut_01 image
cut_02 image
cut_03 image
cut_04 image

Mengapa saat guru memanggil nama anak bisa jadi pertengkaran

Ini artikel yang membahas bersama prosedur, sejarah, dan psikologi tentang kenapa bimbingan kehidupan oleh guru, keluhan orang tua, dan kecemasan anak terus berbenturan di sekolah Korea.

Updated Apr 21, 2026

Di sebuah sekolah dasar di Busan, seorang guru memanggil nama seorang siswa saat melerai konflik antar siswa. Tetapi orang tua siswa itu memprotes keras kepada guru agar tidak memanggil nama anaknya. Alasannya karena anak itu menjadi takut. Kejadian ini terlihat seperti adu mulut biasa, tetapi ini menunjukkan ketegangan seperti apa yang sedang ada di sekolah Korea sekarang. Guru harus melakukan bimbingan kehidupan, tetapi mereka khawatir pada keluhan orang tua dan kontroversi kekerasan terhadap anak. Sebaliknya, orang tua lebih dulu melihat kecemasan dan luka anak. Akhirnya, inti berita ini bukan soal apakah nama dipanggil atau tidak. Yang sedang dipertanyakan bersama adalah sampai di mana batas bimbingan guru yang wajar, sampai di mana orang tua boleh ikut campur, dan dengan prosedur seperti apa sekolah harus menyelesaikan konflik seperti ini.

원문 보기
Poin masalah

Masalahnya bukan pada namanya, tetapi pada bagaimana nama itu dipanggil

Kalau pertama kali melihat kejadian ini, rasanya agak membingungkan, ya. Memanggil nama siswa kelihatannya seperti hal yang sangat biasa di sekolah, jadi mungkin terasa aneh kenapa bisa berkembang jadi konflik besar. Tetapi di sekolah Korea sekarang, dibanding tindakan memanggil nama itu sendiri, yang jadi masalah jauh lebih sensitif adalah dalam situasi seperti apa dan dengan nada seperti apa kata itu diucapkan.

Terutama setelah kasus Seoicho pada 2023, batas antara bimbingan kehidupan oleh guru dan kekerasan emosional terhadap anak menjadi sangat sensitif. Bimbingan kehidupan itu gampangnya adalah pekerjaan guru untuk mencegah gangguan kelas, menengahi konflik siswa, dan membuat siswa menaati aturan. Awalnya ini adalah tugas dasar sekolah, tetapi sekarang kecemasan bahwa satu kata kecil pun bisa berlanjut menjadi keluhan atau laporan makin besar.

Karena itu, standar penilaiannya juga berubah. Bukan cuma fakta bahwa nama dipanggil, tetapi juga diperiksa bersama apakah siswa dipermalukan di depan umum, apakah ditekan berulang kali, apakah siswa benar-benar merasakan ketakutan dan rasa malu yang besar, dan apakah ucapan itu adalah intervensi minimum yang diperlukan untuk pendidikan. Walau sama-sama memanggil nama, tindakan menghentikan konflik dengan cepat dan tindakan menekan seseorang di depan umum dianggap sebagai perilaku yang sama sekali berbeda.

ℹ️Intinya ada di satu kalimat ini

Yang lebih penting daripada apakah nama dipanggil adalah apakah bimbingan diberikan dengan cara yang tidak merusak martabat siswa.

Standar

Apa bedanya bimbingan kehidupan yang wajar dan mempermalukan di depan umum yang tidak pantas

PembagianBimbingan kehidupan yang wajarMempermalukan di depan umum yang tidak pantas · ada kekhawatiran pelanggaran emosional
TujuanSegera menghentikan situasi dan memulihkan aturanMenekan siswa atau menguasai secara emosional
Cara penyampaianMenegur dan menghentikan dengan singkat dan jelasMenggunakan ungkapan merendahkan, mengejek, atau bernada ancaman
KeterbukaanTurut campur hanya sebatas yang paling perluMempermalukan berulang kali di depan banyak orang
PengulanganSetelah situasi selesai, lanjut dengan konseling atau bimbingan susulanTerus memberi cap buruk walau tidak terkait dengan kejadian masalah
Prosedur lanjutanDicek faktanya, konseling, bimbingan terpisah, lalu dilanjutkan dengan komunikasi dengan orang tuaBerhenti hanya dengan kata-kata atau malah membesar jadi konflik emosi
Dampak yang tertinggal pada siswaMemberi kesempatan untuk memahami aturan dan mencoba lagiBisa membuat rasa takut, malu, dan menghindari kelas makin besar
Prosedur

Sekolah biasanya ikut campur seperti ini

Kalau lihat bahan praktik kerja, sekolah biasanya menyarankan penanganan yang bertahap dan bisa dicatat, bukan langsung menekan dengan emosi.

1

Tahap 1: Panggil nama lalu hentikan saat itu juga

Kalau ada pertengkaran antar siswa, guru biasanya lebih dulu memanggil nama atau menegur singkat dengan kata-kata. Tujuan tahap ini bukan menghukum, tapi menghentikan situasi.

2

Tahap 2: Pisahkan tempat duduk dan bantu tenang

Kalau konflik membesar, mereka didudukkan terpisah atau dipindahkan sebentar ke ruang terpisah. Sering kali yang dibutuhkan lebih dulu bukan langsung debat, tapi waktu untuk menurunkan emosi.

3

Tahap 3: Cek fakta satu per satu

Bukan fokus pada siapa yang mulai duluan, tapi cek dengan tenang masing-masing melihat dan mendengar apa. Kejadian yang sama bisa diingat berbeda oleh tiap siswa, jadi catatan dan wawancara pribadi itu penting.

4

Tahap 4: Dilanjutkan ke konseling dan pendidikan kehidupan sekolah

Tidak berhenti hanya dengan menunjukkan perilaku yang bermasalah, tapi juga konseling kenapa tindakan itu muncul, lalu menjelaskan aturan supaya hal serupa tidak terjadi lagi.

5

Tahap 5: Kalau perlu, berkomunikasi resmi dengan orang tua

Kalau kasusnya berulang atau dampaknya besar, sekolah menghubungi orang tua untuk memberi tahu situasinya dan meminta kerja sama. Belakangan ini, komunikasi lewat jalur resmi sekolah makin ditekankan daripada guru pribadi menanganinya sendirian.

Turut campur

Sampai mana orang tua boleh bicara, dan mulai dari mana itu melewati batas

Kalau dilihat dari sistemnya saja, jawabannya cukup jelas. Wewenang langsung untuk membimbing kehidupan siswa ada pada guru dan kepala sekolah, dan orang tua lebih dekat pada pihak yang mendengar penjelasan dan diminta bekerja sama. Tentu orang tua bisa menyampaikan pendapat atau keberatan, tapi mereka bukan pihak yang menentukan langsung cara penanganan saat pelajaran atau bimbingan itu sendiri.

Tapi kenyataannya jauh lebih rumit daripada sistemnya. Di sekolah Korea, sudah lama sering terjadi guru menangani keluhan orang tua langsung lewat ponsel pribadi atau messenger. Jadi walaupun wewenangnya ada di sekolah, pengaruh yang terasa di lapangan sering lebih besar di pihak orang tua yang mengajukan keluhan. Itulah kenapa terus muncul berita bahwa saat guru melakukan bimbingan kehidupan siswa, yang pertama terlintas bukan efek pendidikan, tapi jangan-jangan nanti ada keluhan masuk.

Jadi, titik saat batas itu terlewati bukan pada kritik itu sendiri, tapi pada caranya. Kalau orang tua menjelaskan 'anak kami menunjukkan reaksi seperti ini' lalu meminta cek fakta, itu adalah partisipasi yang wajar. Tapi kalau langsung menghalangi tindakan penghentian atau bimbingan guru di tempat kejadian, memberi tekanan berulang kali, atau membanjiri keluhan langsung ke orang tertentu, itu makin menjauh dari tujuan sistem.

⚠️Alasan sistem dan kenyataan berbeda

Di dokumen, wewenangnya ada pada sekolah, tapi beban pengaduan sudah lama langsung jatuh ke guru secara pribadi.

Lapangan

Dua hal yang menurut guru paling berat

Dalam satu laporan yang mengutip survei, bimbingan kehidupan sekolah dan pengaduan orang tua sama-sama disebut sebagai beban besar dalam kehidupan mengajar.

Bimbingan kehidupan sekolah30.4%
Pengaduan orang tua dan menjaga hubungan25.2%
Latar belakang

Kenapa berita seperti ini terus berulang

Masalah ini bukan muncul dalam semalam. Kalau dilihat dalam alur panjang perubahan hubungan sekolah dan keluarga, kita bisa sedikit lebih paham.

1

Tahun 2000-an: pembicaraan tentang hak asasi siswa makin besar

Makin banyak orang mempertanyakan cara sekolah yang mengontrol secara sepihak seperti dulu. Ini adalah masa ketika suasana yang menganggap wibawa guru sebagai hal yang pasti mulai melemah.

2

Tahun 2010-an: hak bertambah, tapi alat penyesuaian lemah

Saat peraturan hak asasi siswa menyebar, aturan sekolah berubah, tetapi sistem untuk menata ulang wewenang guru dan peran orang tua tidak cukup mengikuti.

3

Pertengahan tahun 2010-an: pengaduan orang tua menjadi tekanan dari luar kelas

Pelanggaran terhadap hak mengajar guru meluas, bukan hanya kata-kata kasar dari siswa atau gangguan saat pelajaran, tetapi juga ke pengaduan orang tua lewat telepon, pesan, dan pengaduan online. Konfliknya jadi lebih pribadi dan berlangsung lebih lama.

4

Sekitar tahun 2019: batas antara bimbingan kehidupan sekolah dan kekerasan terhadap anak mulai goyah

Karena kekhawatiran bahwa bimbingan yang sah pun bisa menjadi sasaran pelaporan makin besar, banyak penilaian mengatakan guru jadi lebih memilih menghindari sengketa daripada langsung memperbaiki masalah.

5

Setelah 2023: kasus Seoi-cho menjadi titik balik

Setelah kasus meninggalnya guru di Seoi-cho, pelanggaran terhadap hak mengajar guru dan pengaduan jahat menjadi isu nasional. Hukum dan sistem memang sebagian berubah, tetapi di lapangan masih terdengar kata-kata bahwa 'perubahan yang benar-benar terasa baru setengah'.

Psikologi

Kata-kata untuk melindungi anak, justru bisa membuat anak lebih cemas

Di sini kita jadi berpikir sekali lagi. Saat orang tua berkata 'anak kami ketakutan', kemungkinan besar itu memang berawal dari naluri melindungi. Tapi kalau melihat penelitian psikologi anak, membiarkan anak terus menghindari situasi yang membuat cemas untuk mengurangi kecemasan justru bisa memperbesar kecemasan dalam jangka panjang.

Mudahnya begini. Kalau anak takut presentasi lalu setiap kali dibebaskan dari presentasi, saat itu memang terasa lebih nyaman. Tapi anak bisa jadi makin percaya bahwa 'aku orang yang tidak bisa tahan menghadapi situasi ini'. Bimbingan guru juga sama. Kalau sebenarnya tidak ada bahaya nyata, tetapi diminta agar jangan memanggil nama anak, jangan memarahi, dan hilangkan semua situasi yang tidak nyaman, anak bisa jadi makin sulit bertahan bahkan dengan ketegangan kecil di sekolah.

Tentu sisi sebaliknya juga penting. Kalau anak benar-benar menunjukkan ketakutan berulang, rasa terhina, reaksi membeku, atau menolak pergi ke sekolah, itu mungkin bukan 'ketidaknyamanan yang perlu dibantu agar bisa beradaptasi', melainkan tanda yang perlu perlindungan. Intinya bukan apakah anak pernah menangis sekali, tetapi apakah setelah itu ia bisa pulih dan ikut kembali. Karena itu guru dan orang tua, daripada saling menghalangi, perlu bersama-sama membedakan antara ketidaknyamanan yang masih bisa ditahan anak dan bahaya yang nyata.

💡Poin yang sering dilihat dalam psikologi

Membolehkan penghindaran yang membuat nyaman dalam jangka pendek bisa membuat penyesuaian di sekolah dan pengendalian diri jadi lebih sulit dalam jangka panjang.

Penilaian

Mari bedakan situasi yang benar-benar butuh perlindungan dan perlindungan berlebihan

Poin cekKasus yang benar-benar perlu perlindunganKasus perlindungan berlebihan yang menghambat penyesuaian
Sifat risikoMerendahkan, mengancam, penghinaan berulang, kelebihan rangsangan indera, kemungkinan memicu traumaMemang tidak nyaman dan membuat tegang, tetapi masih setingkat arahan aturan yang biasa di sekolah
Reaksi anakBahkan setelah kejadian selesai, tetap membeku lama dan sulit pulihSesaat merasa sedih, tetapi setelah waktu berlalu bisa ikut lagi
Perubahan perilakuMenolak masuk sekolah, gejala fisik, menghindari guru atau tempat tertentu terjadi berulangBisa mencoba lagi situasi yang mirip sedikit demi sedikit
Respons orang dewasaPerlu perlindungan segera, pencatatan, dan dihubungkan ke konseling atau dukungan ahliBuat arahan yang sudah diberi tahu sebelumnya, paparan bertahap, dan rancang pengalaman sukses kecil
Hasil jangka panjangKalau dibiarkan, kecemasan dan penolakan sekolah bisa makin parahKalau dibantu dengan tepat, pengendalian diri dan penyesuaian akan berkembang
Solusi

Kenapa penting menyelesaikannya lewat prosedur, bukan memihak siapa pun

Kejadian seperti ini berulang juga karena emosi sering lebih dulu berbenturan. Jadi, sekolah justru harus lebih mengandalkan prosedur daripada orang.

1

Tahap 1: Catat dulu fakta kejadiannya

Harus dicatat dulu siapa mengatakan apa kepada siapa, dan bagaimana reaksi siswa saat itu. Soalnya, ingatan cepat berubah karena terbawa emosi.

2

Tahap 2: Bukan lewat guru pribadi, tetapi alihkan ke jalur resmi

Kalau langsung mulai bertengkar lewat ponsel pribadi atau mesenger, emosi akan membesar. Penting untuk mengubahnya ke jalur resmi seperti pengelola sekolah, loket pengaduan, atau pertemuan terjadwal.

3

Tahap 3: Kalau perlu, kepala sekolah dan komite akan ikut campur

Kalau masalahnya sulit ditangani guru sendirian, kepala sekolah akan menengahi, dan jika ada kemungkinan pelanggaran terhadap kegiatan pendidikan, harus ditinjau lewat prosedur resmi seperti Komite Perlindungan Hak Guru.

4

Tahap 4: Bisa diteruskan ke dukungan di luar sekolah

Kalau tidak bisa diselesaikan di tingkat sekolah, akan diteruskan ke kantor dukungan pendidikan daerah, pusat dukungan dinas pendidikan, atau bantuan hukum dan psikologis. Intinya bukan lebih dulu membela pihak mana, tetapi jangan membuat konflik menjadi pertarungan pribadi.

Makna

Jadi, berita ini tidak boleh dilihat hanya sebagai pertengkaran antara satu guru dan satu orang tua murid

Alasan berita sekolah di Korea terus berulang dengan pola yang mirip ada di sini. Guru harus membimbing, tetapi takut dilaporkan, orang tua murid harus melindungi anak, tetapi bisa jatuh ke jebakan terlalu melindungi, dan sekolah kalau prosedur resminya lemah, akhirnya orang per orang jadi berhadapan langsung. Kasus ini juga bisa dibilang contoh saat tiga masalah itu terlihat bertumpuk dalam satu kejadian.

Kalau orang asing membaca berita Korea, mungkin akan berpikir, 'Kenapa cuma karena nama dipanggil sekali bisa jadi sebesar ini?'. Sekarang sekolah di Korea bukan cuma jadi lebih sensitif, tetapi sepertinya sedang melewati masa peralihan untuk membuat lagi standar hak dan perlindungan. Jadi, supaya paham, kita juga harus melihat struktur yang ada di balik kejadian kecil seperti ini.

ℹ️Kalau artikel ini diringkas dalam satu kalimat

Konflik soal satu ucapan guru sebenarnya adalah hasil benturan hak guru, campur tangan orang tua murid, kecemasan anak, dan prosedur sekolah yang terjadi bersamaan.

Kami akan memberi tahu cara hidup di Korea

Tolong banyak sayangi gltr life

community.comments 0

community.noComments

community.loginToComment

Mengapa saat guru memanggil nama anak bisa jadi pertengkaran | GLTR.life