Pemerintah menyatakan bahwa wisatawan asing yang datang ke Korea pada kuartal 1 tahun 2026 mencapai 4.76 juta orang. Berdasarkan periode yang sama, ini adalah angka tertinggi sepanjang sejarah. Dalam artikel, latar belakang arus ini pertama-tama dijelaskan dari popularitas K-culture. Pemerintah daerah juga tidak melewatkan kesempatan ini. Provinsi Jeju menghubungkan lokasi syuting drama dengan pengalaman premium, dan Chungbuk ingin memperbaiki transportasi dari bandara dan stasiun KTX ke tempat wisata. Daerah yang punya pelabuhan mencoba menarik wisatawan kapal pesiar, dan festival daerah juga ingin diubah menjadi konten yang bisa dinikmati orang asing. Inti artikelnya adalah sekarang persaingan wisata tidak lagi berakhir hanya dengan tempat terkenal di Seoul. Daerah ingin membuat orang asing tinggal lebih lama dengan menggabungkan budaya dan cerita khas mereka, kemudahan perpindahan, sampai program pendidikan. Artinya, K-culture sudah menjadi bahasa utama strategi wisata daerah, bukan cuma pertunjukan atau drama saja.
원문 보기Memang benar orang asing banyak datang ke Korea, tapi kenapa sekarang daerah juga berani maju dengan percaya diri?
Belakangan ini, di berita Korea sering sekali muncul cerita tentang pemulihan wisatawan asing. Pada 2024, wisatawan mancanegara yang datang ke Korea sekitar 16.37 juta orang, naik 48.4% dibanding tahun sebelumnya, dan sudah kembali sampai level 94% dari tahun 2019 sebelum pandemi. Kalau hanya lihat angkanya, memang cocok dibilang 'wisata sudah kembali'. Tapi yang lebih menarik, sekarang bukan hanya Seoul, melainkan kota-kota daerah juga mulai serius ingin menarik para tamu ini.
Kenapa begitu? Dulu kalau bicara soal perjalanan ke Korea, gambaran yang kuat itu belanja di Myeongdong, bus rombongan, lalu keliling beberapa tempat wisata terkenal. Tapi sekarang, ada permintaan yang makin besar untuk merasakan kehidupan sehari-hari ala Korea itu sendiri, seperti konser K-pop, lokasi syuting drama, toko popup Seongsu-dong, Olive Young, minimarket, dan Sungai Han. Dengan kata lain, perjalanannya sedang berubah dari 'wisata untuk membeli barang' menjadi 'wisata untuk langsung menjalani adegan di dalam konten'.
Alasan perubahan ini penting itu sederhana. Seoul memang sudah jadi panggung yang terkenal, tetapi pengalaman gaya hidup sehari-hari justru lebih banyak dimiliki daerah. Festival, makanan, laut, pelabuhan, desa tradisional, lokasi syuting, sampai program kampus, semuanya tersebar di berbagai daerah. Jadi persaingan kali ini bukan sekadar soal menambah jumlah wisatawan, tetapi lebih mirip permainan baru tentang 'siapa yang bisa membuat mereka tinggal lebih lama'.
Kenaikan wisata asing memang fakta, tetapi alasannya bukan hanya satu, yaitu K-culture. Ini adalah hasil dari transportasi, kemudahan masuk, dan pemasaran yang bekerja bersama.
Meski begitu, kekuatan yang membuka 'pintu masuk' alasan berkunjung makin bergeser ke K-content dan budaya hidup ala Korea.
Seberapa cepat wisatawan mancanegara yang datang ke Korea kembali setelah pandemi?
Kalau arahkan mouse ke atas titik, kamu bisa lihat angka di tiap waktu.
Apa yang berbeda antara perjalanan ke Korea dulu dan sekarang?
| Kategori | Pola dulu | Pola terbaru |
|---|---|---|
| Cara berpindah | Fokus pada tur rombongan dan paket | Porsi wisata individu (FIT, wisata bebas) makin besar |
| Konsumsi utama | Fokus pada toko bebas bea dan belanja | Toko pop-up, kecantikan, makanan, dan pengalaman hidup sehari-hari |
| Tempat yang dicari | Fokus pada tempat terkenal di Seoul | Melebar sampai lokasi syuting, festival daerah, dan kawasan usaha lingkungan |
| Alasan perjalanan | Wisata untuk beli banyak dengan murah | Wisata untuk merasakan langsung Korea yang ada di dalam konten |
| Peran daerah | Rute tambahan Seoul | Tujuan wisata dengan merek sendiri |
Proses saat K-culture mulai merangkul sampai cerita daerah di luar Seoul
Pada awalnya Hallyu terlihat seperti industri yang berpusat di Seoul, tetapi seiring waktu, Hallyu makin banyak merangkul budaya dan tempat dari daerah.
Tahap 1: tahun 1990-an, benih industri budaya
Korea mulai melihat budaya populer dan industri budaya sebagai industri pertumbuhan pada tahun 1990-an. Produksi dan distribusi memang terkumpul di wilayah ibu kota, tetapi bahan ceritanya datang dari berbagai daerah di seluruh negeri, seperti makanan, tradisi, dan budaya kehidupan sehari-hari.
Tahap 2: awal tahun 2000-an, drama mulai menjual tempat
Saat karya seperti 'Winter Sonata' menjadi populer di luar negeri, para penggemar mulai datang bukan hanya untuk melihat aktornya, tetapi juga untuk melihat tempat adegan itu diambil. Sejak saat itu, pemandangan daerah mulai masuk sebagai bagian dari konsumsi Hallyu.
Tahap 3: awal tahun 2010-an, kebijakan menghubungkan wisata daerah dan Hallyu
Pemerintah dan lembaga penelitian mulai melihat bahwa Hallyu bisa dihubungkan dengan ekonomi daerah. Lokasi syuting, festival daerah, dan budaya tradisional pun masuk lebih dalam ke dalam kebijakan pariwisata.
Tahap 4: setelah 2014, budaya daerah naik sebagai poros mandiri
Dengan munculnya sistem seperti Undang-Undang Pengembangan Budaya Daerah, budaya daerah tidak lagi hanya dianggap sebagai 'acara kampung', tetapi menjadi salah satu poros kebijakan budaya nasional. Ungkapan bahwa dasar K-culture ada di daerah juga mulai ditegaskan dalam bahasa kebijakan.
Tahap 5: tahun 2020-an, lokal menjadi daya saing berikutnya
Sekarang daerah langsung tampil di depan lewat cara seperti Local 100, fam tour daerah, dan drama pendek. K-pop dan drama membuka pintu masuk, lalu festival daerah, makanan, dan pemandangan menunjukkan kedalaman Korea.
Kalau festival kampung mau jadi produk yang dicari orang asing, foto cantik saja tidak cukup
Kalau festival daerah mau cocok untuk orang asing, tidak boleh berhenti hanya di 'hal yang bisa dilihat'. Satu foto yang bagus memang bisa membuat orang datang, tetapi kalau tahap berikutnya seperti reservasi, perpindahan, pengalaman, dan penginapan tidak tersambung, akhirnya cuma jadi tontonan satu hari saja.
Festival yang berhasil menerjemahkan hal khas daerah ke dalam bahasa K-culture. Misalnya, tanah bisa diubah jadi pengalaman K-beauty atau wellness, kimjang bisa dijelaskan sebagai pengalaman K-food dan budaya musim dingin, dan benteng bisa diceritakan sebagai kisah K-heritage (wisata warisan). Dari sudut pandang orang asing, saat ada penjelasan tentang 'kenapa ini istimewa', hal itu akan jauh lebih lama diingat.
Dan perbedaan yang benar-benar besar bukan pada ramainya acara di hari itu, tetapi pada apakah sudah dibuat struktur untuk tinggal lebih lama. Kalau ada panduan multibahasa, shuttle, penginapan sekitar, rute untuk hari berikutnya, sampai alasan untuk datang lagi, festival bisa menjadi merek kota. Sebaliknya, kalau tidak ada hubungan seperti itu, festival mudah jadi acara sesaat yang hanya muncul sebentar di berita lalu selesai.
Foto adalah 'alat yang membuat orang datang', dan cerita adalah 'alat yang membuat orang ingat'.
Festival wisata untuk orang asing bisa bertahan lama kalau bukan hanya kontennya, tetapi juga multibahasa, reservasi, transportasi, dan penginapan digabung bersama.
Perbedaan antara festival sesaat dan festival wisata yang membuat orang ingin datang lagi
| Item | Festival tipe kilat | Festival wisata berkelanjutan |
|---|---|---|
| Daya tarik utama | Topik hangat sesaat · tempat foto terkenal | Cerita dan pengalaman khas daerah |
| Kemudahan untuk orang asing | Bergantung di lokasi, kurang informasi | Panduan multibahasa · sistem reservasi · pusat sambutan |
| Keterkaitan masa tinggal | Hanya sampai kunjungan sehari | Terhubung sampai penginapan · makan minum · rute tempat terkenal sekitar |
| Indikator hasil | Fokus pada jumlah pengunjung | Tingkat kepuasan · niat merekomendasikan · kemungkinan berkunjung lagi |
| Efek merek kota | Topik hangat yang singkat dan kuat | Citra tujuan yang terus muncul |
Lokasi syuting drama bisa jadi tempat wisata sungguhan, karena perasaan penggemar berubah jadi rute perjalanan.
Wisata lokasi syuting bukan hanya melihat latar, tapi lebih dekat ke tindakan untuk merasakan lagi emosi dari konten di ruang nyata.
Tahap 1: Perasaan menempel pada tempat di layar
Penonton tidak melihat tempat di drama atau film hanya sebagai latar yang indah. Perasaan tokoh utama, adegan terkenal, dan musik ikut menempel, jadi tempat itu sendiri menjadi bagian dari ingatan.
Tahap 2: Penggemar ingin mengalami lagi adegan itu dengan tubuh mereka
Karena itu, kunjungan ke lokasi syuting bekerja bukan sekadar wisata, tapi seperti ziarah tempat suci. Yang penting bukan 'foto diambil di sini', tetapi perasaan 'aku juga masuk ke dalam adegan itu'.
Tahap 3: Daerah memberi cara membacanya lewat papan panduan · tur · promosi
Supaya popularitas karya bertahan lama, tempatnya juga harus terus bisa dimaknai. Jika pemerintah daerah dan lembaga pariwisata menyediakan rute, cerita, dan titik bukti kunjungan, kunjungan penggemar jadi lebih mudah berulang.
Tahap 4: Beberapa tempat menjadi sumber wisata tetap
Seperti Daejanggeum Park atau spot foto terkait BTS, ada kasus saat tempat itu sendiri menjadi merek walaupun karya sudah selesai. Korea cukup aktif dalam perubahan seperti ini.
Faktor yang membuat orang mempertimbangkan kunjungan ke Korea, Hallyu memang kuat, tapi makanan dan belanja bekerja lebih luas.
Hallyu adalah pintu masuk yang kuat, tetapi faktor yang benar-benar menopang keputusan berkunjung secara luas adalah unsur kehidupan sehari-hari seperti makanan dan belanja.
Wisatawan dari Tiongkok · Jepang · Eropa mencari hal yang berbeda di Korea
| Item | Tiongkok | Jepang | Eropa |
|---|---|---|---|
| Sifat perjalanan | Pengalaman kota·belanja·kuliner, akhir-akhir ini perjalanan mandiri makin meluas | Tipe kunjungan ulang yang datang singkat tapi sering | Tipe tinggal jarak jauh yang menetap lama |
| Kenyamanan penting | Informasi bahasa Mandarin·kemudahan pembayaran·kemudahan masuk negara | Aksesibilitas·produk yang cocok untuk jadwal singkat | Rute yang menggabungkan beberapa daerah·pengalaman berkualitas tinggi |
| Konten yang cocok | Belanja·kuliner·wellness·pengalaman gaya kota | Makanan·kecantikan·wisata lokal ringan | Budaya tradisional·alam·rute keliling daerah |
| Strategi pemerintah daerah | Merancang pengalaman premium dengan tingkat kepuasan tinggi | Mendorong kunjungan berulang yang berpusat pada titik langsung | Mengembangkan rute kawasan luas yang menambah lama tinggal |
| Kenapa berbeda | Ukuran pasar besar dan kecepatan perubahannya juga cepat | Dekat dan hambatan psikologisnya rendah | Karena datang dari jauh, jadi ingin melihat banyak hal sekaligus |
Saat wisata kapal pesiar membantu ekonomi daerah dan saat tidak membantu
| Kategori | Pelabuhan singgah | Menginap·pelabuhan asal |
|---|---|---|
| Waktu tinggal | Sering hanya tinggal beberapa jam | Menginap semalam atau lebih, atau ada naik·turun penumpang |
| Konsumsi utama | Tur bus·suvenir·makanan dan minuman ringan | Penginapan·transportasi·makanan dan minuman·penanganan bagasi·layanan rantai pasok |
| Dampak ke daerah | Mudah terkonsentrasi pada sebagian kawasan dagang dan usaha transportasi | Kemungkinan uang menyebar ke seluruh kota lebih besar |
| Kelebihan | Banyak pengunjung masuk dalam waktu singkat | Strategi hub tipe tinggal memungkinkan, efek ekonomi besar |
| Hal yang perlu diperhatikan | Manfaat nyatanya bisa lemah dan bisa menimbulkan kepadatan | Efeknya besar, tapi beban investasi infrastruktur dan operasional juga besar |
Hambatan nyata wisata daerah sering bukan mencari jalan, tapi reservasi·pembayaran·bahasa
| Faktor ketidaknyamanan | Kenapa jadi masalah | Dampak pada wisata daerah |
|---|---|---|
| Hambatan bahasa | Halte·papan petunjuk·layanan staf belum cukup mendukung banyak bahasa | Kebingungan kecil menumpuk dan membuat kelelahan perjalanan makin besar |
| Reservasi·verifikasi identitas | Saat memesan kereta·bus·acara, kadang kartu asing atau akun orang asing diblokir | Walau ingin pergi, orang jadi menyerah untuk melakukannya |
| Pembayaran·kartu transportasi | Cara pembayaran di tempat dan isi ulang terasa asing, dan ada perbedaan tiap daerah | Persiapan perjalanan jadi lebih sulit daripada perjalanannya sendiri |
| Kebaruan informasi | Kadang halaman bahasa Inggris dan informasi operasional nyata tidak cocok | Karena cemas soal pembatalan·pengembalian dana, orang ragu untuk memesan |
| Transit·perpindahan koper | Dibanding Seoul, di daerah jarak antar transit dan jalur perpindahan bisa lebih panjang | Rute yang bisa dijalani dalam sehari jadi berkurang |
Alasan menyasar bukan cuma wisatawan tapi juga mahasiswa asing, karena sekarang persaingan bukan lagi 'berkunjung sebentar' tapi 'tinggal lama'
Kalau melihat cerita tentang pendidikan konten K di universitas di artikel asli, awalnya bisa terasa agak tiba-tiba. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang daerah, ini hubungan yang sangat alami. Wisatawan tinggal beberapa hari lalu pergi, tetapi mahasiswa asing adalah orang yang tinggal di daerah itu dari beberapa bulan sampai beberapa tahun.
Mereka berulang kali mengonsumsi penginapan, makanan dan minuman, transportasi, komunikasi, dan pengalaman budaya, lalu membagikan pengalaman daerah itu kepada keluarga dan teman. Singkatnya, mereka itu tamu sekaligus promotor. Karena itu, pemerintah daerah dan universitas ingin menggabungkan pendidikan konten K, pengalaman budaya, dan dukungan menetap untuk membuat model 'pendidikan tipe tinggal'. Ini strategi untuk menambah populasi hidup dan populasi relasi melampaui pariwisata. Populasi hidup berarti orang yang benar-benar menghabiskan waktu dan berbelanja di daerah itu, sedangkan populasi relasi berarti orang yang walau tidak pindah sepenuhnya, tetap menjaga hubungan terus-menerus.
Pada akhirnya, persaingan budaya K yang dibahas artikel ini bukan soal bisa mengadakan satu festival dengan baik. Ini adalah persaingan menyeluruh agar daerah bisa menunjukkan budaya dan ceritanya sendiri, membuat orang asing bisa bergerak tanpa kesulitan, dan kalau bisa membuat mereka tinggal lebih lama. Ke depan, daerah yang benar-benar kuat kemungkinan besar bukan sekadar tempat dengan banyak hal untuk dilihat, tetapi tempat yang ingin dikunjungi lagi, dan ingin dicoba untuk ditinggali lebih lama.
Persaingan untuk menarik wisatawan asing pada akhirnya bisa menjadi tekanan agar transportasi, bahasa, pembayaran, dan cara menjelaskan budaya di daerah berubah menjadi lebih internasional.
Mengubah Korea dari 'negara yang dilihat sekali' menjadi 'negara yang ingin ditinggali sebentar' tampaknya lebih dekat dengan tujuan nyata strategi K-culture daerah saat ini.
Kami akan memberi tahu cara hidup di Korea
Tolong banyak cintai gltr life




