Artikel ini menyampaikan bahwa minimarket di Seongsu dan Myeongdong sudah banyak berubah dibanding dulu. Sekarang minimarket bukan lagi tempat untuk cepat membeli barang lalu langsung keluar. Minimarket sedang berubah menjadi tempat yang memberi pengalaman baru dan berbeda dengan mengubah produk, ruang, dan desain bersama-sama. Sampai ada orang yang bilang dia tinggal di minimarket hampir dua jam. Di balik perubahan ini ada perluasan belanja online dan persaingan distribusi offline yang makin kuat. Orang yang datang ke toko offline hanya untuk membeli secara sederhana makin berkurang, dan sebagai gantinya nilai pengalaman yang hanya bisa dirasakan langsung di tempat menjadi lebih penting. Industri minimarket sekarang lebih fokus pada strategi agar saat satu orang datang, isi keranjangnya jadi lebih banyak, daripada terus menambah jumlah toko. Artikel ini khususnya mengambil contoh Seongsu dan Myeongdong. Di toko Myeongdong ada album K-pop, light stick dukungan, dan produk K-beauty, sedangkan di toko Seongsu ada tampilan yang mendorong orang untuk melihat-lihat dan mencoba. Zoning, yaitu membagi satu toko menjadi beberapa tema, juga ditekankan. Jika melihat bahan riset, setelah bertambah sampai sekitar 55 puluh ribu pada 2023, pada 2024 jumlah total toko dari 4 perusahaan utama malah menurun. Karena itu muncul penafsiran bahwa pasar minimarket sudah masuk ke fase penataan ulang, bukan lagi ekspansi jumlah. Strategi khusus seperti ini diperkenalkan sebagai perubahan untuk bertahan di pasar yang sudah jenuh.
원문 보기Alasan minimarket di Seongsu dan Myeongdong terlihat berbeda
Inti berita ini sederhana. Minimarket sekarang bukan lagi bisnis yang hanya menjual ‘kemudahan’. Dulu ini tempat untuk buru-buru beli air, samgak gimbap, atau tisu di depan rumah. Tapi sekarang, beberapa toko di Seongsu dan Myeongdong sedang menjadi ruang yang juga menjual ‘apa yang bisa dilihat dan dicoba’.
Kenapa ini terjadi? Karena makin besar belanja online, toko offline harus membuat ‘alasan kenapa orang perlu datang’. Banding harga dan beli ulang bisa selesai lewat ponsel. Jadi peran offline berubah ke kesegeraan (nilai beli sekarang langsung pakai), penemuan (pengalaman bertemu produk tak terduga), dan pengalaman langsung (serunya ruang itu sendiri).
Kalau paham ini, kita tidak akan melihat contoh Seongsu dan Myeongdong hanya sebagai artikel tren. Perubahan yang sedang terjadi sekarang bukan cuma cerita bahwa ‘minimarket jadi lebih gaya’, tapi lebih dekat dengan proses mengubah definisi bisnis itu sendiri agar bisa bertahan di pasar yang sudah jenuh.
Persaingan utama sedang berpindah dari memperluas jumlah toko ke penjualan per toko dan perancangan pengalaman.
Kalau dilihat sebagai tempat percobaan yang paling jelas menunjukkan perubahan itu, Seongsu dan Myeongdong jadi lebih mudah dipahami.
Bagaimana minimarket Korea berubah dari ‘tempat beli sebentar’ menjadi ‘tempat untuk tinggal sejenak’
Toko khusus seperti sekarang tidak muncul tiba-tiba. Ini hasil dari beberapa perubahan peran yang menumpuk pelan-pelan.
Tahap 1: akhir 1980-an, mulai sebagai ‘toko kecil mahal’
Banyak yang melihat pembukaan toko pertama 7-Eleven cabang Olimpiade pada 1989 sebagai titik awal serius industri ini. Pada masa awal, minimarket bukan tempat belanja murah dan lama, tetapi toko model kota untuk cepat membeli barang mendesak pada malam hari.
Tahap 2: 1990-an, menjadi populer sebagai ‘tempat makan langsung’
Saat makanan instan seperti mi gelas, gimbap, dan samgak gimbap makin kuat, minimarket meluas dari toko penjualan biasa menjadi tempat untuk cepat menyelesaikan satu kali makan. Sejak masa ini, rasa ‘singgah sebentar’ mulai muncul.
Tahap 3: era 2000~2010-an, berkembang menjadi platform kehidupan
Saat layanan seperti kurir, pembayaran tagihan, ATM, dan pesan-antar ditambahkan, minimarket berkembang dari toko kebutuhan sehari-hari menjadi platform kehidupan. Platform kehidupan berarti pusat tempat berbagai fungsi harian dikumpulkan di satu lokasi.
Tahap 4: sejak pertengahan 2010-an, muncul alasan untuk tinggal lebih lama
Dengan munculnya perubahan seperti masa kejayaan nasi kotak, kursi bergaya kafe, dan toko bertingkat dua, minimarket bukan lagi sekadar tempat singgah sebentar, tetapi menjadi ruang untuk tinggal sedikit lebih lama. Mulai dari sini, pengalaman saat berada di tempat jadi sama pentingnya dengan susunan produk.
Tahap 5: era 2020-an, berkembang menjadi toko wisata dan pengalaman
Di kawasan dagang yang karakternya jelas seperti Seongsu dan Myeongdong, unsur seperti ruang memasak ramyeon, makanan K, pencuci mulut, dan barang kolaborasi digabungkan. Sekarang minimarket tidak hanya menargetkan ‘kemudahan di depan rumah’, tetapi juga masuk ke tahap sebagai ‘ruang konten yang sengaja dikunjungi’.
Apa bedanya minimarket awal, platform kehidupan, dan toko pengalaman
Walau sama-sama minimarket, nilai yang dijual berubah di tiap zaman. Kalau lihat tabel ini, kamu bisa lebih mudah paham berita sekarang sedang membahas tahap yang mana.
| Kategori | Minimarket awal | Minimarket platform kehidupan | Minimarket pengalaman |
|---|---|---|---|
| Peran utama | Tempat menjual barang mendesak dengan cepat | Tempat mengurus kebutuhan harian seperti makan, kurir, dan keuangan | Ruang yang menjual lihat-lihat, pengalaman, sampai penemuan |
| Produk·layanan utama | Minuman, camilan, rokok, kebutuhan sehari-hari | Nasi kotak, PB, kurir, ATM, tagihan utilitas | Makanan K, pencuci mulut, barang kolaborasi, pengalaman ramyeon, kecantikan |
| Lama tinggal | Sangat singkat | Tinggal sebentar sambil menyelesaikan urusan yang perlu | Bisa jadi lebih lama sambil foto dan berkeliling |
| Tujuan desain toko | Belanja cepat | Memperluas kenyamanan hidup sehari-hari | Menciptakan alasan berkunjung dan menaikkan nilai belanja per pelanggan |
Semakin besar online, bagaimana peran minimarket offline akan berubah
Kalau paham perbandingan ini, kamu bisa lebih mudah mengerti ‘kenapa offline jadi menjual pengalaman’.
| Item | Belanja online | |
|---|---|---|
| Hal yang paling bagus dilakukan | Bandingkan harga, cari stok, beli berulang | |
Minimarket offline Beli langsung, konsumsi langsung, menemukan sesuatu secara tidak sengaja | ||
| Alasan berkunjung | Beli dengan murah dan nyaman | |
| Titik kontak merek | Berpusat pada layar dan ulasan | |
| Cara bersaing | Bersaing di hasil pencarian dan harga | |
Jumlah minimarket di dalam negeri sudah mencapai puncak dan mulai menurun
Kalau arahkan mouse ke titik, kamu bisa lihat angkanya. Dari angka yang bisa dikonfirmasi, setelah level sekitar 5 puluh ribu5 ribu toko pada 2023, pada 2024 jumlah toko gabungan dari 4 perusahaan utama mulai menurun.
Kenapa sekarang ini disebut ‘restrukturisasi’, bukan sekadar jenuh
Jenuh dan restrukturisasi kelihatannya mirip, tapi artinya beda. Jenuh itu keadaan saat jumlahnya bertambah banyak, sedangkan restrukturisasi adalah proses saat strukturnya berubah setelah itu.
| Kategori | Sinyal jenuh | Sinyal penataan ulang |
|---|---|---|
| Jumlah toko | Sulit menambah lagi | Merapikan toko yang efisiensinya rendah dan fokus pada area dagang utama |
| Strategi penjualan | Sulit bertahan hanya dengan jumlah | Beralih ke arah menaikkan penjualan toko lama dan nilai belanja per pelanggan |
| Pola persaingan | Persaingan pembukaan toko melambat | Memperkuat dua pemain utama berpusat pada CU·GS25 sambil menjalankan efisiensi |
| Arti | Batas pasar mulai terlihat | Standar antara toko yang bertahan dan toko yang hilang menjadi makin jelas |
Kenapa sekarang nilai belanja per pelanggan lebih penting daripada jumlah toko
Nilai belanja per pelanggan adalah jumlah rata-rata yang dipakai 1 pelanggan saat 1 kali berkunjung. Dari angka ini, kita bisa lihat industri sedang berusaha menjaga keuntungan dari mana.
| Item | Dulu: memperbanyak jumlah toko | |
|---|---|---|
| Cara bertumbuh | Membuka banyak toko untuk memperbesar skala luar | |
Sekarang: fokus pada nilai belanja per pelanggan dan penjualan per toko Walau membuka lebih sedikit, menjual lebih baik di satu toko | ||
| Indikator penting | Total jumlah toko, penambahan bersih toko | |
| Cara yang efektif | Membuka toko dekat, merebut area dagang lebih dulu | |
| Kenapa berubah | Pada masa pertumbuhan pasar, jumlah memang menjadi kekuatan | |
Kenapa harus Myeongdong dan Seongsu
Meski merek minimarketnya sama, kalau kawasan niaganya berbeda, pelanggan dan produk yang dituju toko juga berubah. Kalau lihat perbedaan ini, kita bisa paham kenapa toko khusus jadi strategi yang berpusat pada kawasan niaga.
| Item | Toko tipe Myeongdong | Toko tipe Seongsu |
|---|---|---|
| Pelanggan utama | Wisatawan asing, permintaan belanja kenang-kenangan cepat | Pengunjung yang mencari tren, permintaan campuran lokal dan wisata |
| Tujuan kunjungan | Membeli dan merasakan K-food dan K-beauty sekaligus | Melihat dan mencoba produk serta ruang yang baru |
| Produk utama | Ramen, camilan, light stick, album, produk kecantikan, produk hadiah | Pencuci mulut, produk kolaborasi, display gaya pop-up, PB yang berkesan |
| Tampilan toko | Kemudahan multibahasa, alur gerak wisatawan, fokus pada pembelian langsung | Display yang bagus untuk foto, ruang tema, alur gerak penemuan |
Apakah zoning benar-benar membuat orang tinggal lebih lama
Zoning adalah cara membagi bagian dalam toko menjadi area berdasarkan tema. Namanya memang terlihat sulit, tapi sebenarnya ini mirip dengan ‘desain yang membuat orang melihat lebih banyak dalam waktu singkat’.
| Pertanyaan | Arah yang dikatakan penelitian dan praktik | |
|---|---|---|
| Apakah tujuannya menambah waktu tinggal | Sebagian benar, tapi inti utamanya adalah memperluas paparan produk dan kemungkinan pembelian tambahan | |
Hal yang perlu diperhatikan saat membaca Minimarket pada dasarnya berfokus pada pembelian cepat dengan tujuan jelas, jadi tidak sama dengan supermarket | ||
| Kenapa bisa efektif | Desain alur gerak, penataan di sekitar kasir, dan penempatan barang pelengkap yang berdekatan bisa mendorong pembelian impulsif | |
| Kalau tinggal lebih lama pasti beli lebih banyak? | Sulit untuk memastikan begitu | |
Jadi, bagaimana kita harus membaca berita ini
Toko serba ada khusus di Seongsu dan Myeongdong kalau dibaca hanya sebagai artikel tren ringan tentang ‘akhir-akhir ini toko serba ada jadi lebih menarik’, itu berarti baru paham setengahnya. Yang lebih penting adalah, ini adalah sinyal bahwa industri toko serba ada di Korea sedang menggeser pusat fokus dari ekspansi jumlah ke penataan ulang kualitas.
Sekarang daya saing toko serba ada bukan ditentukan oleh berapa banyak cabang baru yang dibuka, tetapi oleh di kawasan dagang seperti apa, untuk siapa, dan pengalaman seperti apa yang dirancang. Di Myeongdong dibuat supaya wisatawan bisa langsung membeli dan menikmatinya, sedangkan di Seongsu diberikan keseruan melihat-lihat dan menemukan hal baru. Inilah alasan mengapa meskipun mereknya sama, tokonya makin berbeda seperti ‘zona tema di department store kecil’.
Jadi, saat nanti melihat berita serupa, bacanya seperti ini. Pertama, kawasan dagang mana yang dituju toko ini. Kedua, dengan apa mereka ingin menaikkan nilai belanja per pelanggan. Ketiga, pengalaman apa yang dimasukkan yang tidak bisa diberikan online. Kalau melihat tiga hal ini saja, kamu bisa menilai dengan jauh lebih jelas apakah toko serba ada itu hanya toko unik biasa, atau contoh penting dari perubahan struktur industri.
Toko serba ada khusus bukan soal produk yang sedang tren, tetapi lebih tepat dibaca sebagai strategi struktural untuk menaikkan nilai per toko di pasar yang sudah jenuh.
Kalau paham ini, di berita berikutnya kamu bisa menafsirkan sendiri ‘kenapa kawasan dagang ini, kenapa produk ini’.
Kami akan memberi tahu cara hidup di Korea
Tolong banyak cintai gltr life
