|
GLTR.life

Hidup di Korea, Dipahami

cut_01 image
cut_02 image
cut_03 image
cut_04 image

Toilet kafe 2K KRW? — Apa yang terjadi pada toilet Korea yang membuat dunia iri

Sisi lain dari kontroversi toilet kafe berbayar — kami membahas sejarah toilet umum Korea yang membuat dunia iri, kenyataan para wiraswasta, dan bahkan psikologi 'rasa hangat' serta 'menghindari kerugian'.

Updated May 4, 2026

Yonhap News menyampaikan kontroversi toilet berbayar dalam artikel 2026-04-08. Toilet berbayar yang dulu lebih dikenal sebagai budaya luar negeri seperti di Eropa mulai muncul juga di Korea. Beberapa toko hanya mengizinkan toilet dipakai oleh pelanggan yang membayar. Soal ini, ada orang yang bereaksi dengan berkata mungkin memang sudah sangat terpaksa, jadi mereka bisa mengerti. Sebaliknya, ada juga kritik yang bilang ini tidak ramah dan mahal, terlalu berlebihan, serta tidak nyaman. Budaya toilet di Korea mulai berubah besar menjelang Olimpiade Seoul 88. Waktu itu perubahan ke toilet siram makin cepat, tetapi toilet jongkok masih paling umum. Orang yang terbiasa dengan toilet gratis mudah merasa perubahan ke sistem berbayar seperti sebuah kerugian. Karena mereka merasa sesuatu yang dulu bisa dinikmati diambil, reaksi penolakannya dianggap jadi lebih kuat.

원문 보기
Kontroversi

Toilet kafe, sekarang harus bayar ya?

'Kalau hanya memakai toilet tanpa memesan (1 orang 1 kali), 2K KRW.' Pada Maret 2026, kalimat ini muncul di layar kios sebuah kafe, dan SNS langsung heboh. Banyak yang bereaksi, masa di Korea harus bayar untuk memakai toilet kafe, apa ini benar-benar bisa terjadi?

Di satu sisi, ada yang bilang 'pasti ada alasannya sampai begitu' dan ikut memahami pemilik kafe. Di sisi lain, ada juga yang mengkritik, 'masa sampai toilet juga dipungut uang, tidak ada rasa hangat.' Sebenarnya sudah cukup banyak kafe yang mengunci pintu toilet dan menuliskan kata sandi di struk, tetapi ini pertama kalinya dimasukkan langsung ke menu.

Tapi dari sudut pandang orang yang sudah 5 tahun tinggal di Korea, kontroversi ini agak menarik. Korea itu negara dengan toilet umum yang sangat bersih dan gratis, termasuk yang terbaik di dunia. Di stasiun bawah tanah, taman, bahkan di minimarket pun kita bisa memakai toilet gratis — jadi sebenarnya apa yang sedang terjadi?

⚠️Linimasa kontroversi toilet kafe

Desember 2025 — kafe di Uijeongbu memasang pemberitahuan 'biaya penggunaan toilet 5K KRW', polisi datang

Maret 2026 — menu 'penggunaan toilet 2K KRW' muncul di kios kafe, perdebatan besar di SNS

Januari 2025 Amerika Serikat — Starbucks menghapus kebijakan toilet gratis yang dipertahankan selama 7 tahun

Perbandingan

Budaya toilet yang berbeda di setiap negara

Di Korea, toilet itu 'tentu saja gratis', tetapi di beberapa negara, toilet itu 'tentu saja berbayar'. Yuk, kita bandingkan budaya toilet di negara-negara utama dunia sekilas.

NegaraBiaya penggunaanKebersihanCiri khas
🇰🇷 Koreagratisperingkat 3 duniadikelola dengan Undang-Undang Toilet Umum, dipasang luas di stasiun bawah tanah dan taman
🇯🇵 Jepanggratisperingkat 1 duniateknologi canggih TOTO, proyek arsitektur THE TOKYO TOILET
🇩🇪 Jerman1 euro (~1.5K KRW)peringkat atasSanifair — bayar 1 euro lalu mendapat kembali voucher 1 euro
🇫🇷 Prancisgratis (Paris)menengah atas435 toilet otomatis Sanisette, disinfeksi otomatis 60 detik setelah digunakan
🇺🇸 Amerika Serikatgratis (but kurang)peringkat 30 duniahanya 8 per 100 ribu penduduk, kebijakan gratis Starbucks juga dihapus
🇸🇬 SingapuraSebagian berbayarPeringkat atasKalau tidak menyiram toilet, kena denda Pusat panggilan layanan sipil pemerintah dolar (sekitar 150K KRW)
Kebanggaan

Alasan toilet Korea membuat dunia kagum

Pada September 2025, ulasan toilet di Korea yang diunggah seorang turis asing di Reddit menjadi viral dan mendapat 700 suka. Isinya seperti, 'toiletnya bersih dan gratis, ada di mana-mana', dan 'bisa dipakai gratis di stasiun bawah tanah, taman, food court, bahkan di gedung kantor'. Dalam peringkat kebersihan toilet umum dunia 2025 dari TripZilla, Seoul dengan bangga menempati peringkat 3 setelah Tokyo dan Zurich.

Ada satu orang yang punya peran besar dalam perubahan ini di Korea. Mantan wali kota Suwon, Sim Jae-deok (1939~2009), dikenal dengan julukan 'Mister Toilet (Mr. Toilet)'. Sejak 1996, ia membentuk tim khusus toilet, lalu pada 1999 mendirikan Asosiasi Toilet Korea. Pada 2007, ia bahkan mendirikan Asosiasi Toilet Dunia (WTA) dan menjadi ketua pertamanya. Ia juga ikut berkontribusi agar PBB menetapkan 19 November setiap tahun sebagai 'Hari Toilet Sedunia'.

Lalu pada 2004, Korea membuat 'Undang-Undang tentang Toilet Umum dan Lainnya' yang pertama di dunia. Undang-undang ini mengatur pemasangan kloset di toilet perempuan minimal 1.5 kali lipat dibanding toilet laki-laki, dan juga mengelola pemasangan toilet serta kebersihannya lewat hukum. Ada lagi tidak ya negara yang seserius ini soal satu toilet?

ℹ️Jepang juga serius soal toilet — THE TOKYO TOILET

Sejak 2020, di distrik Shibuya sedang berjalan proyek untuk mendesain ulang 17 toilet umum oleh 16 arsitek terkenal dunia.

Toilet transparan karya Ban Shigeru (kaca yang menjadi buram saat masuk) juga pernah menjadi latar film 'PERFECT DAYS' karya sutradara Wim Wenders.

Sejarah

Dari lubang sampai 'hwakangseu' — 60 tahun toilet Korea

Toilet Korea yang bersih seperti sekarang bukan dibuat dalam semalam. Bahkan 60 tahun lalu, bentuknya benar-benar sulit dibayangkan.

1

1960-an — 'Jamban belakang' model lubang

Di pedesaan, jamban lubang dengan duduk di atas dua batu adalah hal yang umum. Tisu toilet? Tidak ada. Orang memakainya dengan meremas koran atau kalender. Kotoran manusia juga didaur ulang jadi pupuk.

2

1974 — Muncul tisu toilet 'Poppy'

Saat Yuhan-Kimberly meluncurkan tisu toilet 'Poppy', akhirnya zaman tisu toilet dimulai. Sebelumnya, barang ini sangat langka sampai-sampai wajar saja menaruh gulungan tisu toilet di meja restoran hotel mewah untuk dipakai.

3

1988 — Toilet yang diubah oleh Olimpiade

Saat mempersiapkan Asian Games 86 dan Olimpiade Seoul 88, pemerintah menjalankan kampanye besar-besaran untuk beralih ke toilet siram. Di Seoul saja, dibangun 4 tempat pengolahan air limbah yang baru. Kalau melihat bahwa rasio toilet siram di Seoul pada 1972 hanya 7%, memang Olimpiade benar-benar mengubah toilet Korea sepenuhnya.

4

1999 — Mulai 'Kontes Toilet Indah'

Revolusi budaya toilet yang dipimpin wali kota Sim Jae-deok, si 'Mister Toilet', mulai berjalan sungguh-sungguh. Pemenang pertama penghargaan Toilet Indah adalah 'Toilet Kunang-Kunang' di Suwon, dan setelah itu selama 24 tahun, kota Suwon menang sampai 28 kali.

5

2002 — Bidet masuk ke rumah tangga biasa

Bidet pertama kali masuk pada 1983, tetapi bagi masyarakat umum itu terasa seperti cerita dari negeri yang jauh. Saat Woongjin Coway meluncurkan 'Lulu Bidet', mereka memperkenalkan model rental (bayar bulanan, bukan memiliki), dan itulah pemicunya. Pada 2018, ukuran pasar naik sampai 500B KRW, dan tingkat pemakaiannya mencapai 40%.

6

2004 — 'Undang-Undang Toilet Umum' pertama di dunia

Gerakan budaya toilet akhirnya mendapat dukungan hukum. Menetapkan standar pemasangan dan kebersihan, seperti aturan jumlah kloset toilet perempuan 1.5 kali lipat, adalah yang pertama di dunia untuk Korea.

7

2025 — Zaman 'hwakangseu'

Muncul kata baru 'hwakangseu', gabungan dari toilet dan liburan. Ini adalah budaya pekerja kantor yang beristirahat sebentar di toilet saat bekerja. Bisa dibilang ini tahap akhir dari perubahan 60 tahun: dari buang air → kebersihan → budaya → ruang istirahat.

Data

Toilet di Korea yang berubah karena Olimpiade

Kalau arahkan mouse ke titik, kamu bisa lihat angka yang tepat. Kamu bisa lihat sekilas bagaimana rasio toilet siram yang pada 1972 hanya 7% berubah setelah Olimpiade.

0336598(%)(Tahun)Olimpiade 88Tepat sebelum Piala Dunia19721990199520002015
Kenyataan

Keadaan hati asli pemilik kafe

Nah, lalu kenapa pemilik kafe mulai meminta bayaran untuk toilet? Kalau lihat angkanya, jadi mudah dimengerti. Tingkat bertahan hidup 5 tahun kafe di Korea adalah 34.9%. Artinya, dari sepuluh hanya tiga yang bisa bertahan. Pada 2024, laporan penutupan usaha mencapai 98puluh ribu 7 ribu kasus dan mencatat rekor tertinggi sepanjang masa, lalu pada 2025 diperkirakan akan melewati Pusat panggilan layanan sipil pemerintahpuluh ribu kasus. Secara nyata, kita sudah masuk ke 'era 100puluh ribu penutupan usaha per tahun'.

Biaya perawatan toilet juga tidak kecil. Kalau digabung dari kesaksian komunitas pemilik kafe, hanya tagihan air saja sekitar 300K~700K KRW per bulan, barang habis pakai seperti tisu toilet dan sabun 100K~200K KRW, lalu kalau ditambah biaya tenaga kerja untuk bersih-bersih, satu toilet bisa menghabiskan 800K~1.6M KRW per bulan. Jadi uang dari penjualan 60~100 gelas Americano per hari bisa habis untuk biaya toilet.

Selain itu, pada kuartal 1 tahun 2025, jumlah kafe di seluruh negeri untuk pertama kalinya turun sejak statistik mulai dicatat (9 puluh ribu 5,337, dibanding tahun sebelumnya -743). Dalam 10 tahun terakhir, kafe yang baru buka naik 45%, tetapi pada periode yang sama kafe yang tutup melonjak 181%. Dalam situasi seperti ini, para pemilik bilang mereka juga sulit menanggung 'orang numpang pakai toilet gratis'.

⚠️Toilet lebih mahal daripada kopi?

Di Korea, tempat waralaba kopi murah menyumbang 37% dari total penjualan kafe, jadi americano seharga 1.5K KRW sudah menjadi hal yang umum.

Tapi biaya pakai toilet adalah 2K KRW. Jadinya harga toilet malah lebih mahal daripada secangkir kopi.

Statistik

Pekerja mandiri Korea, peringkat berapa di OECD?

Alasan kafe di Korea sebanyak ini adalah karena jumlah pekerja mandiri juga sangat banyak. Kalau dibandingkan dengan negara-negara utama OECD, bedanya terasa jelas.

Korea23.2%
Rata-rata OECD15.6%
Prancis13.1%
Jepang9.6%
Jerman8.7%
Amerika Serikat6.6%
Psikologi

Kenapa jadi semarah ini?

Jujur, 2K KRW itu bukan uang yang sangat besar. Tapi kenapa rasanya tetap bikin marah? Di sini ada psikologi di baliknya. Ini adalah teori 'penghindaran kerugian (Loss Aversion)' yang dijelaskan oleh ilmuwan bernama Kahneman dan Tversky pada 1979 — bahkan untuk jumlah uang yang sama, rasa sakit karena kehilangan terasa 2~2.5 kali lebih besar daripada rasa senang karena mendapatkannya.

Bagi orang Korea, 'toilet gratis' itu sesuatu yang terasa wajar sejak lahir. Dalam psikologi, ini disebut 'titik acuan (Reference Point)'. Orang Eropa punya titik acuan 'berbayar', jadi membayar terasa biasa. Tetapi bagi orang Korea, titik acuannya adalah 'gratis', jadi perubahan menjadi berbayar 2K KRW terasa bukan sebagai 'biaya baru', melainkan sebagai 'kerugian karena sesuatu diambil'.

Di sini juga ada budaya 'kemurahan hati' yang khas Korea. Dalam bahasa Korea, kata 'service' berbeda dari service dalam bahasa Inggris, karena ini adalah Konglish yang berarti 'memberi tambahan gratis'. Lauk pendamping isi ulang tanpa batas, bonus tambahan saat belanja di pasar, pakai toilet kafe gratis — semua ini adalah budaya yang lahir dari 'rasa kasih sayang' dan 'kemurahan hati' di Korea. Bahkan dalam survei Embrain, 63.9% responden menganggap layanan lauk gratis sebagai 'identitas khusus yang hanya dimiliki Korea'.

💡Inti penghindaran kerugian

Bahkan untuk 2K KRW yang sama — rasa senang karena beli kopi < rasa tidak enak karena rugi buat biaya toilet

Asimetri ini adalah alasan kenapa muncul perasaan, 'Cuma 2K KRW, tapi kenapa bikin marah begini?'

Kenapa di Eropa tidak jadi kontroversi? Karena titik standarnya memang 'berbayar'.

Contoh

Perang 'gratis→berbayar' di Korea — dari kantong plastik sampai toilet

Bukan cuma toilet kafe. Di Korea, setiap kali sesuatu yang 'awalnya gratis' mulai dikenai biaya, selalu muncul kontroversi besar.

ContohWaktuHargaRespons konsumen
Kantong plastik berbayarJanuari 2019Beli kantong sampah resmiPenolakan kuat di awal → diterima pelan-pelan
Area parkir E-Mart2019~30 menit gratis, setelah itu 1K KRW per 10 menit'Perusahaan besar sampai ambil biaya parkir juga?' Kecaman keras
Isi ulang lauk berbayarSedang dibahas pada 2026Beda harga menurut menu64.8% merasa keberatan, 42.3% 'tidak datang lagi'
Toilet kafeMaret 20262K KRW'Pelit' vs 'masuk akal', opini terbelah tajam
Wi-Fi publikPemotongan 2024Layanan dikurangiAda kekhawatiran soal kesenjangan digital
Perkiraan

Masa depan 2K KRW

Lalu ke depan akan bagaimana? Kasus Starbucks di Amerika bisa jadi referensi. Pada 2018, mereka menerapkan kebijakan 'siapa pun bisa memakai toilet gratis', tapi karena toilet dipakai menetap oleh tunawisma dan kondisi toko memburuk, akhirnya dihapus pada Januari 2025 setelah 7 tahun. Pelajarannya adalah, 'niat baik saja tidak cukup untuk bertahan lama'.

Di Korea, ada juga solusi yang agak berbeda. Distrik Seongdong di Seoul mendukung 15 toilet terbuka milik swasta dengan perlengkapan kebersihan dan biaya pengelolaan bulanan sampai 170K KRW, dan Kota Suncheon di Jeonnam juga memberi dukungan sampai 200K KRW per bulan. Ini model seperti, 'kalau kafe membuka toiletnya, pemerintah daerah menutup sebagian biayanya'.

Pada akhirnya, kontroversi ini bukan cuma soal '2K KRW'. Ini adalah benturan antara budaya toilet kelas dunia yang sudah dibangun Korea selama 60 tahun, dan kesepakatan sosial tentang 'kemurahan hati' dan 'gratis' yang selama ini menopang budaya itu, dengan kenyataan ekonomi. Seperti pepatah 'kemurahan hati datang saat lumbung penuh', ketika lumbung mulai kosong, bagaimana menjaga kemurahan hati itu — ini pertanyaan yang harus dijawab oleh seluruh masyarakat Korea.

ℹ️Poin utama

Toilet umum Korea ada di peringkat 3 dunia dalam kebersihan — ini aset yang dibangun lewat usaha 60 tahun

Keadaan pemilik kafe juga memang nyata — biaya perawatan toilet saja 800K KRW~1.6M KRW per bulan, tingkat bertahan hidup 5 tahun 34.9%

Alasan perubahan 'gratis→berbayar' jadi sangat kontroversial khususnya di Korea — psikologi menghindari kerugian + benturan budaya kemurahan hati

'Jalan ketiga' seperti insentif dari pemerintah daerah juga bisa jadi jawaban

Saya akan memberi tahu cara hidup di Korea

Tolong banyak dukung gltr life

community.comments 0

community.noComments

community.loginToComment